Laman

Rabu, 22 September 2010

Keunikan Agama Buddha

Evaæ anâvilamhi citte – So passati attadatthaæ paratthaæ :

Apabila airnya jernih, terlihatlah kerang, tiram, koral, pasir dan kumpulan ikan. Demikian pula, ...Apabila pikiran tidak keruh, tertampaklah manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. KHUDDAKA NIKAYA, JATAKA I : 220

KEUNIKAN AJARAN BUDDHA

1. MENGANDALKAN DIRI SENDIRI

Sang Buddha berkata, : "Saya tidak pernah memiliki guru atau makhluk apapun yang mengajarkan cara mencapai pencerahan. Saya mencapai kebijaksanaan tertinggi dengan usaha, kekuatan, pengetahuan dan kemurnian sendiri."

Demikian pula, kita dapat mencapai semua tujuan kita melalui usaha yang sungguh – sungguh, bukan dengan mengandalkan pertolongan makhluk – makhluk di luar diri kita.

2. TIDAK ADA KEPERCAYAAN MEMBUTA

Buddha tidak menjanjikan kebahagiaan surgawi, imbalan atau keselamatan bagi orang yang percaya kepada – Nya. Buddha tidak menginginkan pengikut – Nya untuk percaya kepada – Nya secara membuta.

Ia menginginkan kita untuk berpikir dan paham oleh diri kita sendiri. Oleh karenanya ajaran Buddha disebut agama analisis. Buddha bahkann tidak tersinggung apalagi marah jika ada orang yang tidak sepaham dengan – Nya.

3. ILMIAH

Umat Buddha tidak pernah merasa perlu untuk memberikan tafsiran baru terhadap ajaran Buddha. Penemuan ilmiah belakangan ini tidak pernah bertentangan dengan ajaran Buddha karena ajaran dan metode Buddha bersifat ilmiah.

Asas – asas Buddhis dapat dipertahankan dalam keadaan apapun tanpa mengubah gagasan-gagasan dasarnya. Ajaran Buddha dihargai kaum cendikiawan, ilmuan, pemikir hebat, ahli filsafat, kaum rasionalis, bahkan pemikir bebas, sepanjang masa.

4 AJARAN MASA DEPAN

Albert Einstein, ilmuan paling terkemuka pada abad ke – 20 mengatakan : "Agama masa depan adalah agama kosmik. Melampaui Tuhan sebagai pribadi serta menghindari dogma dan teologi.

Mencakup baik alamiah maupun spiritual, agama tersebut seharusnya didasarkan pada rasa keagamaan yang timbul dari pengalaman akan segala sesuatu yang alamiah dan spiritual, berupa kesatuan yang penuh arti.

Ajaran Buddha menjawab gambaran ini... Jika ada agama yang akan memenuhi kebutuhan ilmiah modern, itu adalah ajaran Buddha."

SABBE SATTA SABBA DUKKHA PAMUCCANTU – SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA :

Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...

Indahnya Cinta Sejati

“Kammaæ satte vibhajati yadidaæ hînappaóîtatâya : Perbuatanlah yang membedakan makhluk hidup menjadi hina atau mulia”. MAJJHIMA NIKAYA, UPARIPANNASAKA : 596

INDAHNYA CINTA SEJATI

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokkan tembok.

Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu.

Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada di situ 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi ? Bagaimana anak kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun ??? dalam keadaan gelap selama 10 tahun tanpa bergerak sedikitpun.

Itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu !

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan.

Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seeko kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya........

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu mem perhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun.

Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah.

Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta ? Tentu saja sebuah keajaiban.

Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun.

Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan.

Saya tersentuh ketika membaca cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, saudara lelaki, saudara perempuan.....

Masih sejauh mana rasa cinta itu ada untuk mereka ???

JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI…

SABBE SATTA SABBA DUKKHA PAMUCCANTU – SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA :

Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...

Ulambana – Chau Tu, Refleksi Bhakti Nyata Kepada Leluhur

“Semoga semua mahluk hidup, Yang telah dilahirkan ataupun yang belum lahir,
Semoga semuanya tanpa terkecuali merasakan kebahagiaan, Semoga mereka semuanya terbebas dari penderitaan”. ANGUTTARA NIKAYA, II. 72
Demikian yang telah kudengar. Pada suatu ketika, Sang Buddha tinggal di Savasti, di hutan Jeta di tengah taman Anathapindhika. Pada saat itu, Yang Mulia Bhikkhu Mogalana baru memiliki 6 kekuatan bathin (Sad Abhinna). Ia ingin membebaskan orang tuanya yang terlahir di alam sengsara. Dengan mata bathinnya, ia melihat ibunya terlahir sebagai setan kelaparan. Karena ibunya terlalu lama tidak mendapatkan makanan dan minuman maka hanya kulit saja yang membalut tulang di tubuhnya. Melihat hal ini, timbul rasa kasihan dalam diri Yang Mulia Bhikkhu Mogalana. Beliau mengisi patta (* Mangkok) – nya dengan makanan dan mengirimnya kepada sang ibu. Saat sang ibu menerimanya, ia memasukan makanan tersebut kedalam mulutnya tetapi makanan tersebut berubah menjadi arang yang membara dan iapun tidak dapat memakannya. Yang Mulia Bhikkhu Mogalana berteriak sekerasnya dan menangis melihat ibunya, ia kemudian menemui Sang Buddha untuk mencari jalan keluar dari masalah ini.
Sang Buddha menyabdakan bahwa karma buruk yang dimiliki ibu nya sangat berat dan berakar dalam. Dengan kekuatan sendiri, tidak akan mampu mengakhiri semua ini. Walaupun rasa bhakti mampu menggetarkan langit dan bumi, namun dewa langit, dewa bumi, peganut ajaran lain, para Brahmana bahkan raja adikuasa dari Catur Maharajika dan sebagainya pun tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membantu. Kekuatan spriritual perkumpulan sangha dari 10 penjuru yang akan mampu untuk mewujudkan kebebasan ini. Sekarang Aku uraikan cara yang membawa keselamatan bagi semua penderitaan serta akar rintangan karma.
Sang Buddha bersabda kepada Yang Mulia Bhikkhu Mogalana bahwa bulan ke 7 hari ke 15 penanggalan lunar adalah hari Pavarana Sangha bagi perkumpulan Sangha (* Kumpulan bhikkhu / bhikkhuni min. 5 orang) di sepuluh penjuru. Untuk kepentingan 7 generasi orang tua di kehidupan yang lampau dan juga ayah atau ibu di kehidupan sekarang yang hidup dalam keadaan yang sangat menyedihkan maka engkau harus menyediakan dan mempersembahkan nasi dan bermacam macam sayur, dupa, minyak, pelita, perlengkapan istirahat dan semua barang terbaik yang diperuntukan bagi Sangha dari 10 penjuru. Pada hari itu, seluruh anggota Sangha, baik yang sedang bermeditasi di gunung – gunung yang telah mencapai tingkat Sotapana atau yang sedang berjalan dibawah pohon pohon atau yang telah memperoleh 6 kekuatan bathin (Sad Abhinna) dan sedang menjalankan kewajiban mengajarkan Dharma : kebenaran terluhur kepada para Savaka atau Pacceka Buddha di berbagai daerah, Bodhisttva Mahasattva yang berstatus Dasa Bhumi ( 10 tingkat bhumi ) dapat menjelmakan dirinya sebagai Bhikkhu, Bikkhuni dan berbaur dalam perkumpulan Sangha. Rombongan Arya tersebut datang ke tempat suci itu, bukan hanya menerima dana makanan. Tetapi mereka akan mempergunakan kewibawaan, kemampuan dan kebajikan mereka dari perilaku sila suci mereka. Jasa jasa agung itu mereka limpahkan kepada para leluhur atau orang tua para dermawan baik yang masih hidup atau kedua orang tua dermawan baik itu. Barang siapa mengadakan persembahan sangha ini maka orang tua – nya yang masih hidup dan leluhurnya yang telah meninggal dari 7 generasi di masa silam dan juga kerabatnya yang dekat akan terlepas dari 3 alam sengsara. Pada saat mereka dibebaskan secara cepat, mereka akan mendapatkan makananan dan pakaian. Jika orang tuanya masih hidup, mereka akan mendapatkan umur panjang dan tubuh yang sehat. Para leluhur dari 7 generasi di masa silam akan terlahir kembali di alam bahagia dan bebas memasuki sinar Mandarwa surga dan hidup penuh kebahagaiaan.
Pada hari upacara Ulambana yang diadakan oleh Yang Mulia Bhikkhu Mogalana, Sang Buddha yang mengumumkan dan meminta para Bhikkhu, Bhikkhuni dan Para Savaka Sangha yang telah berada di berbagai daerah untuk berkumpul. Guna mengadakan ritual pembacaan mantra dan pelimpahan jasa, kepada orang tua para dermawan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal beserta 7 generasi leluhur di masa lalu. Seusai meditasi, barulah mereka menerima dana dan makanan beserta sajian lainnya yang sebelumnya diletakan di altar Buddha atau dikelilingkan pada stupa Buddha, setelah mereka membaca doa, dana baru dibagikan.
Pada saat upacara Ulambana selesai Yang Mulia Bhikkhu Mogalana bersama para Bhikkhu, Bhikkhuni dan Bodhisattva lainnya merasa sangat bergembira. Mulai saat itu perasaan duka Yang Mulia Bhikkhu Mogalana lenyap dan saat itu juga ibu Yang Mulia Bhikkhu Mogalana terbebas dari satu kalpa penderitaan di alam setan kelaparan. Yang Mulia Bhikkhu Mogalana berkata kepada Sang Buddha, sekarang ibu bersyukur karena diberkati oleh kekuatan jasa kebajikan dari Triratna beserta kebajikan dari kekuatan spiritual yang mengagumkan dari perkumpulan Sangha.
Apabila di kemudian hari putra putri yang berbudi, siswa Sang Buddha melakukan ritual Ulambana ini dan memberi persembahan kepada sangha, akankah mereka dapat menyelamatkan leluhur mereka seperti 7 generasi leluhur yang telh meninggal pada masa lalu ?
Sang Buddha menjawab, sadhu, sadhu, sadhu,...Saya sangat senang mendengar pertanyaanmu. Sesungguhnya hal – hal demikian penting itu telah siap Ku – uraikan kepada umat sekalian, akan tetapi perhatianmu telah mendahuluiku, wahai orang orang yang berbudi, apabila terdapat Bhikkhu, Bhikkhuni para raja, pangeran atau pejabat kerajaan serta para rakyat jelata berhasrat ingin berbakti, membalas kepada budi kedua orang tuanya yang telah melahirkan atau membalas 7 generasi keturunannya di masa silam, mereka dapat menyediakan berbagi macam makanan serta sajian lainnya pada hari Pavarana Sangha itu yang jatuh pada setiap tanggal 15 bulan 7 lunar, mengadakan upacara Ulambana memberi persembahan kepada perkumpulan Sangha yang datang dari 10 penjuru sehingga ayah bunda mereka yang masih hidup mendapatkan umur panjang dan sehat tanpa penderitaan bathin dan fisik, bebas dari bencana.
Sedangkan orang tua mereka yang telah meninggal beserta 7 keturunan generasi ayah ibunya dapat keluar dari alam setan kelaparan dan mereka dapat dilahirkan kembali di alam manusia atau bahkan alam dewa.
Barangsiapa yang ingin berbakti kepada leluhurnya serta kedua orang tua yang masih hidup, mereka seyogyanya senantiasa mengingat kedua orang tuannya yang masih hidup atau sudah meninggal itu. Setiap tahun tanggal 15 bulan 7 lunar, mengadakan upacara ulambana, memberi persembahan kepada buddha dan sangha, melimpahkan jasa kepada orang tua mereka di kehidupan sekarang dan 7 generasi di masa silam. Demikianlah semoga semua murid murid Sang Buddha dapat menghayati Dharma Sang Buddha yang amat berharga ini.
Pada saat itu Yang Mulia Bhikkhu Mogalana beserta keempat kelompok murid murid Buddha merasa gembira setelah mendengarkan kotbah Sang Buddha. Mereka bertekad untuk mempraktikannya.
SABBE SATTA SABBA DUKKHA PAMUCCANTU – SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA : Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...
* Untuk konsultasi, silakan ke HP 0819880604 dan add BlackBerry anda ke nomor Pin 216DE234.
OLeh : Pdt. DM. Peter Lim, S.Ag, MBA, M.Sc

AGAMA DAN KITAB SUCI

Those for whom there is no accumulation, who reflect well over their food, who have perceived void and unconditioned freedom – Their path is hard to trace, like that of birds in the air.

“Mereka yang tidak lagi menimbun [harta benda maupun perbuatan], yang merenungkan makanan sebelum memakannya, yang telah mencapai Pembebasan Mutlak, yang kosong dari noda batin dan markahnya; jalan kepergian orang – orang seperti ini sukar dilacak bagai burung – burung yang terbang di udara”. ARAHANTA VAGGA VII : 92

AGAMA DAN KITAB SUCI

Semua agama memiliki kitab suci atau kumpulan naskah suci yang menjadi dasar kepercayaan. Pada umumnya dinyatakan bahwa kitab suci itu berdasarkan wahyu dari Tuhan atau Dewa dari masing – masing agama dan oleh karenanya dianggap sempurna dan memiliki kekuasaan penuh.

Sang Buddha mengajarkan, bahwa agama yang berdasarkan pada naskah wahyu tidaklah cukup, karena beberapa alasan :

# PERTAMA: Ada demikian banyak agama yang berdasarkan pada naskah wahyu, semua menyatakan kitab suci mereka adalah kata – kata dari Tuhan tetapi pada kenyataannya semua naskah dari masing – masing agama / kepercayaan berisi ajaran dan pemahaman yang berbeda – beda.

# KEDUA : Adanya kecenderungan bersikap terlalu “membuku” semuanya dirujuk ke buku / Kitab suci.

Mereka yang kepercayaannya disandarkan pada naskah berdasarkan wahyu cenderung menghabiskan waktu memperdebatkannya kata demi kata, ayat demi ayat, sebab semua naskah dapat ditafsirkan bermacam – macam, mereka terlibat dalam perdebatan tentang “ yang mana adalah ” dan “ yang mana bukanlah ” tafsiran yang benar.

Mereka lebih cenderung memperhatikan buku – buku sehingga mengabaikan penelitian terhadap diri sendiri untuk pertumbuhan nilai spiritual sejati.

# KETIGA : Walau “Tuhan” menyampaikan wahyu itu lewat seorang Nabi, juga tidak ada cara untuk dapat memastikan sepenuhnya, apakah nabi itu telah mendengarkan dan mengerti Wahyu itu dengan tepat atau tidak.

Walau telah didengarkan dan dimengerti dengan baik sekalipun, maka wahyu itu dapat saja tidak direkam dengan baik untuk pewarisannya kemudian.

Dan memang pada kenyataannya, banyak naskah – naskah suci dari beberapa agama memiliki versi – versi yang berbeda dan beberapa bagian telah dikurangi atau ditambah, yang karenanya telah membuat kita ragu terhadap keasliannya.

Agama Buddha tidak menghadapi masalah – masalah seperti itu karena tidak ada pernyataan yang mengatakan bahwa naskah – naskah suci adalah Wahyu. Sebaliknya, naskah agama Buddha adalah penyampaian seorang manusia, yakni Sang Buddha, juga direkam oleh manusia.


Demi keselamatan, penganut agama lain mempercayai segala sesuatu yang ada pada kitab suci, sedangkan seorang Buddhis harus mengerti dan memahaminya sendiri, naskah suci hanyalah sarana untuk melaksanakan hal ini. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam salah satu khotbahnya yang sangat terkenal, khotbah pada suku Kalama .

KALAMA SUTTA

“Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi atau sesuatu yang didesas – desuskan.

Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis dalam kitab – kitab suci,
juga apa yang dikatakan sesuai logika dan kesimpulan belaka, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu atau karena ingin menghormati seorang pertapa yang menjadi gurumu…

Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui; “Hal ini berguna, hal ini tidak tercela, hal ini dibenarkan oleh para bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan” maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal – hal tersebut.”

Bagi agama lain, hal yang terpenting adalah Siapa yang mengucapkan naskah suci itu…..tetapi bagi seorang Buddhist, hal yang paling penting adalah apa yang diucapkan dan apakah itu tepat dan berfaedah ?

Seorang Buddhist dengan gembira dapat mengetahui nilai spiritual dari literatur suci dari agama lain dan darinya dapat menambah wawasannya ,sebab perhatian utama umat Buddha bukanlah pada pertahanan dan memperteguh dogma tetapi mengetahui Kebenaran….!

If you find truth in any religion, accept that truth : Jika engkau menemukan kebenaran dalam agama apapun, terimalah kebenaran itu !

SABBE SATTA SABBA DUKKHA PAMUCCANTU – SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA :

Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...

Senin, 26 Juli 2010

mengapa kita dilahirkan ?

Yo ca vassasataæ jîve – Kusîto hînavîriyo – Ekâhaæ jîvitaæ seyyo Viriyaæ ârabhato daïhaæ – Mâse mâse sahassena – Yo yajetha sataæ samaæ – Ekañca bhâvitattânaæ – Muhuttamapi pûjaye – Sâ yeva pûjanâ seyyo – Yañce vassasataæ hutaæ :

Orang yang malas dan kendur semangatnya, meskipun hidup sampai seratus tahun, tidaklah ada artinya. Kehidupan orang yang berusaha dengan sungguh – sungguh dan mantap, meskipun hanya sehari, jauh lebih mulia.

Betapa pun besar pahala dari persembahan kurban dengan mengeluarkan banyak kekayaan setiap bulan terus menerus sepanjang seratus tahun, pemujaan terhadap orang yang telah melatih diri, meskipun hanya sejenak, jauh lebih mulia.

KHUDDAKA NIKAYA, SUTTANIPATA : 18

MENGAPA KITA DILAHIRKAN ?

Kalau kita kembali kepada Dharma maka pandangan kita akan mengarah kepada proses dari kehidupan ini.

Paticcasamuppada atau hukum sebab akibat yang saling bergantungan dapat dijadikan referensi tentang proses kelahiran ini.

Dijelaskan bahwa Avijja atau kegelapan batin yang masih ada akan menjadi penyebab proses selanjutnya.

Demikian hal ini akan terus berlanjut selama akar dari proses itu masih ada.

Untuk lebih jelasnya kita kembali kepada rumusan Paticcasamuppada seperti berikut :

• Dengan adanya kebodohan muncullah bentuk – bentuk pikiran

• Dengan adanya bentuk – bentuk pikiran muncullah kesadaran

• Dengan adanya kesadaran muncullah batin dan jasmani

• Dengan adanya batin dan jasmani muncullah enam indera

• Dengan adanya enam indera muncullah kesan – kesan.

• Dengan adanya kesan – kesan muncullah perasaan

• Dengan adanya perasaan muncullah nafsu keinginan

• Dengan adanya nafsu kenginan muncullah kemelekatan

• Dengan adanya kemelekatan muncullah upadi (keinginan menjadi)

• Dengan adanya upadi muncullah kelahiran

• Dengan adanya kelahiran muncullah usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan jasmani, kekhawatiran dan putus asa.

• Dan muncullah ketidakpuasan batiniah / penderitaan

3. Kelahiran ini pun akan berakhir jika akar penyebab proses kelahiran tidak ada lagi seperti yang ada pada rumusan berikut :

• Dengan lenyapnya kebodohan lenyap pula bentuk – bentuk pikiran

• Dengan lenyapnya bentuk – bentuk pikiran lenyap pula kesadaran

• Dengan lenyapnya kesadaran lenyap pula batin dan jasmani

• Dengan lenyapnya batin dan jasmani lenyap pula enam indera

• Dengan lenyapnya enam indera lenyap pula kesan – kesan.

• Dengan lenyapnya kesan – kesan lenyap pula perasaan

• Dengan lenyapnya perasaan lenyap pula nafsu keinginan

• Dengan lenyapnya nafsu kenginan lenyap pula kemelekatan

• Dengan lenyapnya kemelekatan lenyap pula upadi (keinginan menjadi)

• Dengan lenyapnya upadi lenyap pula kelahiran

• Dengan lenyapnya kelahiran muncullah lenyap pula usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penderitaan jasmani, kekhawatiran dan putus asa.

• Dan lenyaplah semua ketidakpuasan batiniah / penderitaan

Jawabannya sudah jelas bahwa kenapa kita masih dilahirkan adalah karena kita masih dibelenggu oleh kekotoran batin.

Selama belenggu ini belum dapat dipatahkan selama itu pula proses kelahiran akan terjadi.

Dengan mengetahui penyebab dari proses penyebab kelahiran ini maka kita harus berusaha untuk berjuang menuju kepada kebahagiaan sejati sehingga tidak ada kelahiran lagi.

SABBE SATTA SABBA DUKKHA PAMUCCANTU – SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA :

Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...

Minggu, 25 Juli 2010

KITA SANGAT BERUNTUNG DALAM HIDUP INI ^_^ Bagikan

KITA SANGAT DIBERKATI

Pernah nggak sih KITA ngerasain kalau hidup itu bener – bener ‘bad’ dan nggak berarti lagi dan berharap, coba kalau KITA bisa ada di kehidupan yang lain !
Saya akui, saya cukup sering merasa begitu.
Saya pikir, hidup ini kayanya cuma nambahin kesulitan – kesulitan saya aja ! Kerja menyebalkan, hidup tidak berguna dan nggak ada sesuatu yang beres !

Tetapi semua itu berubah…sejak kemarin…
Pandangan saya tentang hidup ini benar – benar telah berubah !
Tepatnya terjadi setelah saya bercakap – cakap dengan teman saya.
Ia mengatakan kepada saya bahwa walau ia mempunyai 2 (dua) pekerjaan dan berpenghasilan sangat minim setiap bulannya, namun ia tetap merasa bahagia dan senantiasa bersukacita.
Saya pun jadi bingung, bagaimana bisa ia bersukacita selalu dengan gajinya yang minim itu untuk menyokong kedua orangtuanya, mertuanya, istrinya, 2 (dua) putrinya, ditambah lagi tagihan – tagihan rumah tangga yang numpuk !

Kemudian ia menjelaskan bahwa itu semua karena suatu kejadian yang ia alami di India.
Hal ini dialaminya beberapa tahun yang lalu saat ia sedang berada dalam situasi yang berat.
Setelah banyak kemunduran yang ia alami itu, ia memutuskan untuk menarik nafas sejenak dan mengikuti tur ke India.

Ia mengatakan bahwa di India, ia melihat tepat di depan matanya sendiri bagaimana seorang ibu MEMOTONG tangan kanan anaknya sendiri dengan sebuah golok !!!
Keputusasaan dalam mata sang ibu, jeritan kesakitan dari seorang anak yang tidak berdosa yang saat itu masih berumur 4 tahun ! terus menghantuinya sampai sekarang.
KITA mungkin sekarang bertanya – tanya, kenapa ibu itu begitu tega melakukan hal itu ?
Apa anaknya itu ’so naughty’ atau tangannya itu terkena suatu penyakit sampai harus dipotong ? Ternyata tidak !
Semua itu dilakukan sang ibu hanya agar anaknya dapat…MENGEMIS…!
Ibu itu sengaja menyebabkan anaknya cacat agar dikasihani orang – orang saat mengemis di jalanan !

Saya benar – benar tidak dapat menerima hal ini tetapi ini adalah KENYATAAN !
Hanya saja hal mengerikan seperti ini terjadi di belahan dunia yang lain yang tidak dapat saya lihat sendiri !

Kembali pada pengalaman sahabat saya itu, ia juga mengatakan bahwa setelah itu ketika ia sedang berjalan – jalan sambil memakan sepotong roti, ia tidak sengaja menjatuhkan potongan kecil dari roti yang ia makan itu ke tanah.
Kemudian dalam sekejap mata, segerombolan anak kira – kira 6 orang anak sudah mengerubungi potongan kecil dari roti yang sudah kotor itu…mereka berebutan untuk memakannya ! (* Suatu reaksi yang alami dari kelaparan).

Terkejut dengan apa yang baru saja ia alami, kemudian sahabatku itu menyuruh guidenya untuk mengantarkannya ke toko roti terdekat.
Ia menemukan 2 (dua) toko roti dan kemudian membeli semua roti yang ada di kedua toko itu !
Pemilik toko sampai kebingungan tetapi ia bersedia menjual semua rotinya.
Kurang dari $ 100 dihabiskan untuk memperoleh 400 potong roti (* Jadi tidak sampai $ 0,25 / potong) dan ia juga menghabiskan kurang lebih $ 100 lagi untuk membeli barang keperluan sehari – hari.

Kemudian ia pun berangkat kembali ke jalan yang tadi dengan membawa satu truk yang dipenuhi dengan roti dan barang – barang keperluan sehari – hari kepada anak – anak (* Yang kebanyakan CACAT) dan beberapa orang – orang dewasa disitu !
Ia pun mendapatkan imbalan yang sungguh tidak ternilai harganya yaitu kegembiraan dan rasa hormat dari orang – orang yang kurang beruntung ini !

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa heran bagaimana seseorang bisa melepaskan kehormatan dirinya hanya untuk sepotong roti yang tidak sampai $ 0,25 !
Ia mulai bertanya – tanya pada dirinya sendiri, betapa beruntungnya ia masih mempunyai tubuh yang sempurna, pekerjaan yang baik, juga keluarga yang hangat.
Juga untuk setiap kesempatan dimana ia masih dapat berkomentar mana makanan yang enak, mempunyai kesempatan untuk berpakaian rapi, punya begitu banyak hal dimana orang – orang yang ada di hadapannya ini AMAT KEKURANGAN !!!

Sekarang aku pun mulai berpikir seperti itu juga ! Sebenarnya, apakah hidup saya ini sedemikian buruknya ?

TIDAK, sebenarnya tidak buruk sama sekali !!! Nach, bagaimana dengan KITA ?

Mungkin di waktu lain saat KITA mulai berpikir seperti aku, cobalah ingat kembali tentang seorang anak kecil yang HARUS KEHILANGAN sebelah tangannya hanya untuk mengemis di pinggir jalan !

Saudara, banyak hal yang sudah KITA alami dalam menjalani kehidupan KITA selama ini, sudahkah
KITA BERSYUKUR ?

Apakah KITA mengeluh saja dan selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah KITA miliki ?

* Dari note Theresia Ratih Sawitridjati

Si gadis yg belajar dr pengalaman dan Si gadis penuh rasa cinta kasih ^^

Di suatu kota tinggal lah seorang gadis yg pandai,ceria,dan super sibuk,ramah.
gadis tersebut bernama Dewi.
Dewi seorang anak gadis yang sangat cekatan dan bannyak pengalaman dan hampir menguasai semua bidang,tergolong anak yg pandai untuk anak seusianya yang baru 17 thn,wow sungguh gadis yang luar biasa dan hebat.
bahkan org yang lbh dewasa dan lebih pengalaman dari Dewi mengakui dan memuji kecekatan dan ketrampilan Dewi.
Dewi very is the best.
namun suatu ketika Dewi mengalami suatu tragedi,dan hal ituh membuat dia down,menjadi marah,dendam dan tak menjadi Dewi yg penuh semangat dan ceria kembali.
suatu pengalam buruk dimana dia menilai semua usaha jeripayah,kerja kerasnya selama ini sia-sia dan tidak ada hasil.
dimana sebelumnya sedari jauh hari Dewi menyiapkan event,menghandle acara,sampai tidak tidur 1 hr sebelum hr H,sampai lupa akan kondisi dirnya sendiri.
tapi dalam sekejap hal ituh berubah menjadi kepedihan,kesedihan,kegaga
lan dan rasa benci pun timbul di hati Dewi mana kala saat event itu dia dianggap hanya sebagai seorang yg selalu hanya bs mengatur,sok tau dan selalu ikut campur,tanpa mereka mengetahui bagaimana beratnya mengemban tugas,tanggung jawab,rasa khawatir tak sukses dan lancar.
Dewi makin menjadi kesal sekali saat dirinya tanpa di hargai sedikit pun di panggil dengan seenaknya dgn sebutan BOS di depan para tamu undangan yg berasal dr luar daerah dan di tempat peribatan orang lain,bkn di tempat peribatan dimana biasa Dewi hadiri.
Dewi yang biasa hanya menganggap semua tuh hanya lelucon dan tdk di masukan kehati,tp kali ini Dewi merasa amat sangat terhina dan kesal smpai kata-kata yg tak terduga pun keluar dari mulut Dewi. "MONYONG" teriak dewi pun kesal.

WOW betapa kagetnya semua org melihat dewi bisa marah,sampai mengluarkan kata-kata seperti itu.
di saat event itu berlangsung tanpa disadari oleh Dewi.
Dewi menemukan kakak angkat yang sangat luar biasa hebat,di tengah keterbatasan fisiknya ia amat sangat ceria,selalu bersukur,menggap semua kekurangannya adalah anugrah untuk ia.
OK ! panggil saja namanya metta,ya Metta seperti namanya yang mengartikan cinta kasih,Metta adalah kakak angkat Dewi yang sangat luar biasa,disaat keadaan Dewi yang sedang down,kecewa dan sensi sekali.hehehe.
Metta dgn sabar dan lembut memberi semangat,nasehat,dukungan dan menjadi teman curhat Dewi,di setiap kesempatan ia selalu luangkan waktu u/membalas sms dr Dewi.
waktu pun berjalan cepat,hari demi hari Dewi dan Metta jalani dgn saling berbagi,begituh bahagianya Dewi dpt mengenal Metta yang sangat luar biasa,Dewi pun menyadari buat apa hanya melihat dan kesal pada mereka yang iri dan bisa mencemohnya,lbh baik bangkit kembali ceria dan aktif.
Dewi sungguh sangat belajar dr Metta yg selalu happy walau pun dalam kondisi keterbatasannya,satu yg sangat luar biasa dr Metta banyak orang pun yang mencemoh Metta tetapi Metta hanya diam dan tersenyum.
dan Metta pun berkata kepada Dewi buat apa Q menagis,mengeluh dan menghiraukan mereka yg mencemoh Q,diriku pun jika bs memilih tak mau seperti ini,blm tentu mereka yg mentertawakan ku lbh baik dr diriku.
sungguh kata-kata yang memotifasi diri Dewi,untuk kembali seperti Dewi yang dulu :D

sooo guys ayoo kita jgn hirau kan org-org yg mencemoh kita,anggap lah org yg mencemoh kita hanya bagian dr karma kita,mereka mungkin iri akan prestasi kita dan ambillah hal ini sebagai motifasi u/kita selalu memperbaiki diiri dan hambatan yang menjadi pengalaman yg berharga untuk kita mencapai sukses.

kisah ini kupersembahkan untuk cc angkat Q tersayang dan yg sangat amat luar biasa.