Laman

Rabu, 22 September 2010

AGAMA DAN KITAB SUCI

Those for whom there is no accumulation, who reflect well over their food, who have perceived void and unconditioned freedom – Their path is hard to trace, like that of birds in the air.

“Mereka yang tidak lagi menimbun [harta benda maupun perbuatan], yang merenungkan makanan sebelum memakannya, yang telah mencapai Pembebasan Mutlak, yang kosong dari noda batin dan markahnya; jalan kepergian orang – orang seperti ini sukar dilacak bagai burung – burung yang terbang di udara”. ARAHANTA VAGGA VII : 92

AGAMA DAN KITAB SUCI

Semua agama memiliki kitab suci atau kumpulan naskah suci yang menjadi dasar kepercayaan. Pada umumnya dinyatakan bahwa kitab suci itu berdasarkan wahyu dari Tuhan atau Dewa dari masing – masing agama dan oleh karenanya dianggap sempurna dan memiliki kekuasaan penuh.

Sang Buddha mengajarkan, bahwa agama yang berdasarkan pada naskah wahyu tidaklah cukup, karena beberapa alasan :

# PERTAMA: Ada demikian banyak agama yang berdasarkan pada naskah wahyu, semua menyatakan kitab suci mereka adalah kata – kata dari Tuhan tetapi pada kenyataannya semua naskah dari masing – masing agama / kepercayaan berisi ajaran dan pemahaman yang berbeda – beda.

# KEDUA : Adanya kecenderungan bersikap terlalu “membuku” semuanya dirujuk ke buku / Kitab suci.

Mereka yang kepercayaannya disandarkan pada naskah berdasarkan wahyu cenderung menghabiskan waktu memperdebatkannya kata demi kata, ayat demi ayat, sebab semua naskah dapat ditafsirkan bermacam – macam, mereka terlibat dalam perdebatan tentang “ yang mana adalah ” dan “ yang mana bukanlah ” tafsiran yang benar.

Mereka lebih cenderung memperhatikan buku – buku sehingga mengabaikan penelitian terhadap diri sendiri untuk pertumbuhan nilai spiritual sejati.

# KETIGA : Walau “Tuhan” menyampaikan wahyu itu lewat seorang Nabi, juga tidak ada cara untuk dapat memastikan sepenuhnya, apakah nabi itu telah mendengarkan dan mengerti Wahyu itu dengan tepat atau tidak.

Walau telah didengarkan dan dimengerti dengan baik sekalipun, maka wahyu itu dapat saja tidak direkam dengan baik untuk pewarisannya kemudian.

Dan memang pada kenyataannya, banyak naskah – naskah suci dari beberapa agama memiliki versi – versi yang berbeda dan beberapa bagian telah dikurangi atau ditambah, yang karenanya telah membuat kita ragu terhadap keasliannya.

Agama Buddha tidak menghadapi masalah – masalah seperti itu karena tidak ada pernyataan yang mengatakan bahwa naskah – naskah suci adalah Wahyu. Sebaliknya, naskah agama Buddha adalah penyampaian seorang manusia, yakni Sang Buddha, juga direkam oleh manusia.


Demi keselamatan, penganut agama lain mempercayai segala sesuatu yang ada pada kitab suci, sedangkan seorang Buddhis harus mengerti dan memahaminya sendiri, naskah suci hanyalah sarana untuk melaksanakan hal ini. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam salah satu khotbahnya yang sangat terkenal, khotbah pada suku Kalama .

KALAMA SUTTA

“Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi atau sesuatu yang didesas – desuskan.

Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis dalam kitab – kitab suci,
juga apa yang dikatakan sesuai logika dan kesimpulan belaka, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu atau karena ingin menghormati seorang pertapa yang menjadi gurumu…

Tetapi, setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui; “Hal ini berguna, hal ini tidak tercela, hal ini dibenarkan oleh para bijaksana, hal ini kalau terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan” maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal – hal tersebut.”

Bagi agama lain, hal yang terpenting adalah Siapa yang mengucapkan naskah suci itu…..tetapi bagi seorang Buddhist, hal yang paling penting adalah apa yang diucapkan dan apakah itu tepat dan berfaedah ?

Seorang Buddhist dengan gembira dapat mengetahui nilai spiritual dari literatur suci dari agama lain dan darinya dapat menambah wawasannya ,sebab perhatian utama umat Buddha bukanlah pada pertahanan dan memperteguh dogma tetapi mengetahui Kebenaran….!

If you find truth in any religion, accept that truth : Jika engkau menemukan kebenaran dalam agama apapun, terimalah kebenaran itu !

SABBE SATTA SABBA DUKKHA PAMUCCANTU – SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATA :

Semoga semua makhluk hidup terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia,...sadhu,...sadhu,...sadhu,...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar